VILLA HANTU...?
IHHH...SREEEMMM....
Sepulang sekolah, terlihat tiga orang anak berkumpul di depan kelas, yang sedang membicarakan ke mana mereka akan liburan. Di antaranya Weny, dia ingin sekali pergi liburan ke vila Bu De-nya di Lengka, dan dia juga ingin mengajak Cika dan Lina sahabat dekatnya, supaya dia tidak sendirian.
Weny : “Cika dan, Lina kalian berdua mau nggak ikut liburan bareng aku ke vilanya Bu De aku di Lendang Nangka…?”
Cika : “Boleh tuch Wen, tapi di sana asyik nggak sih, dan ada pemandangannya nggak ?”
Weny : “Eeit…jangan salah, di sana banyak banget pemandangan yang indah. Dan kita juga bisa mancing ikan lho di sana.”
Lina : “Oya, pasti seru banget tuh Wen. Apalagi aku kan hobi banget mancing. Aku ikut ya….!!”
Weny : “Ya udah lok gitu, sekarang kita pulang ke rumah masing-masing dulu, besok pagi jam 7 aku tunggu kalian di rumah aku. Jangan sampai telat ya…!”
Lina : “Beres bos. Besok pagi-pagi banget aku udah ada di rumah kamu.”
Cika : “iya aku juga bakalan datang pagi-pagi ke rumah kamu.”
Weny : “ya udah dech kalo gitu sampai jumpa besok pagi. Aku tunggu di rumah ya…Daah…!”
Cika & Lina : “Daaahh…”
Mereka akhirnya berpisah di persimpangan jalan.
Keesokan harinya jam 7 pagi tepat, Weny mendengar suara pintunya di ketuk oleh seseorang dan orang itu mengucapkan salam.
Cika & Lina : “Assalamualaikum..!”
Cika : “Weny..!Kita dah pada datang nich..”
Weny : “Waalaikummussalam…Eh Lina, Cika. Ayo masuk. Ternyata kalian tepat waktu juga….”
Lina : “Ya iya dong Wen.Secara kita kan mau liburan, dan juga aku udah nggak sabar mau mancing nich.”
Cika :”Iya Wen. Aku juga nggak sabar pengen liat vilanya Bu De kamu itu kayak gimana sih ?”
Weny :”Ya udah kalo gitu, ayo kita jalan.”
Cika & Lina :”Ayo……!!!!”
Sesampainya di Lengka, Weny mampir dulu ke rumah Bu De-nya, untuk mengambil kunci vila. Setibanya di sana Weny langsung di sambut oleh Juli, anaknya Bu De. Tapi ada keanehan pada wajahnya. Wajahnya tampak pucat pasi, seperti mayat hidup.
Weny :”Assalamualaikum……..”
Juli : “Eh,Weny, sama siapa aja ? O ya mari masuk…!
Weny :”Iya ka’ makasih. Aku datang sama temen-temen aku nich. Ini namanya Cika dan yang ini namanya Lina.”
Juli :”kenalin nama aku Juli.”
Cika & Lina :”salam kenal.”
Weny :”O ya ka’ Bu De mana, kok dari tadi nggak keliatan sih ?”
Juli :”Ibu lagi pergi jenguk nenek, yang lagi sakit.”
Weny :”Sejak kapan ?”
Juli :”Sejak dua hari yang lalu.”
Cika :”Jadi kakak sendirian di rumah ?”
Juli :”Iya.”
Lina :”Kok kakak berani banget sih sendirian di rumah ? nggak ada yang nemenin ?”
Juli :”Iya. Emangnya kenapa ?”
Weny :”Iya nich, emangnya kenapa kok kalian nanya kak Chika kayak gitu sih.”
Cika :”Nggak kenapa-napa sih ?”
Weny :”udah dech. Oya ka’ pinjam kunci vila dong, kita mau nginap untuk beberapa hari aja..”
Juli :”O ya bentar. Kakak ambil dulu. (beberapa saat kemudian).
Ini kuncinya.”
Weny :”ya udah lok gitu, kita mau langsung ke vila aja ya ka.”
Juli :”Ya dah, kalian hati-hati ya. Nanti kalau sampai di sana jangan sekali-kali kalian menuju ke halaman belakang vila.”
Cika :”Emangnya kenapa ka’ ?”(Tanya Cika penasaran)
Lina :”Iya emangnya kenapa ?”
Juli :”Nggak, ndak ada apa-apa sih, hanya saja keselamatan kalian ada di tangan kalian sendiri.”
Weny :”Maksudnya ?”
Juli :”Kalian berangkat saja sana. Ingat jangan sampai ada yang ke taman belakang.”
Cika :”Ehm.”
Weny : ya udah ka’ kita berangkat dulu ya.
Di perjalanan ketiga sahabat itu hanya bertanya-tanya dalam hati mereka masing-masing, sampai salah seorang dari mereka mengajukan pertanyaan pada Weny.
Cika :”Wen, kok tadi waktu kita ngobrol-ngobrol sama ka’ Chika aku jadi merinding sih.?”
Weny :”Cuma perasaan kamu aja kali.”
Lina :”Nggak Wen, aku juga ngerasain hal yang aneh tadi waktu kita ngobrol.”
Weny :”Terus…?”
Cika :”Tadi juga aku perhatiin wajahnya itu pucat banget kayak mayat.”
Lina :”Bener Wen.”
Weny :’Iya juga sih, tadi aku juga sempat bertanya-tanya. Kok wajahnya pucat banget, nggak seperti hari-hari sebelumnya. Tapi mungkin aja kan kalo dia itu lagi sakit. Udahlah, ngapain sih kalian pusingin itu, yang penting sekarang kita bisa seneng-seneng saat liburan kali ini.Jarang-jarang lho kita bisa liburan ke Vila.”
Cika :”Bener juga ya.”
Weny :”Temen-temen liat deh itu Vilanya udah keliatan, cepet yuk.”
Lina :”Ya udah, kalo gitu kita lomba lari aja biar cepat nyampe. Siapa yang kalah dia harus masak makan malam. Gimana ?”
Cika & Weny :”Ok…! Siapa takut.!”
Sesampainya di Vila. Ketiga sahabat itu langsung membersihkan diri mereka. Setelah perjalanan yang agak jauh.
Lina :”Ini udah jam berapa ?”
Cika :”Baru juga jam 6 Sore.”
Weny :”Emangnya kenapa, pake nanyain jam segala ?”
Lina :”Nggak ada sih, aku cuma khawatir aja apa ya yang bakalan terjadi ntar?”
Cika :”Kok kamu ngomong gitu sih.”
Lina :”Nggak kok. Aku cuma canda doang.”
Weny :”Nggak boleh canda gitu ah. Pamali’.”
Cika :”Iya nih Lina. Kamu bikin takut aja. Udah ah aku mau sholat dulu. Kalian nggak sholat ?”
Weny :”O iya. Hampir aja lupa. Sholat bareng yuk.”
Lina :”Ayo.”
Beberapa saat kemudian setelah mereka sholat, mereka langsung menyiapkan makan malam. Dan kini saatnya untuk Lina, menyiapkan semuanya.
Weny :” Lina, jangan lupa tolong rebus air ya.”
Lina :”Iya jeng, bantuin yuk ?”
Cika :”Nggak mau ah, lagian itu kan tugas kamu. Siapa suruh tadi buat lomba. Jadinya kamu kena tuch.”
Lina :”Dasar kamu ya. Awas ya nanti. Uuch…Semua makanan udah siap. Tinggal nunggu airnya masak.”
Lina hanya sendirian di dapur, dia merasakan ada yang aneh. Seketika itu bulu kuduknya langsung berdiri. Dan dia kemudian mendengar suara nyanyian dari air yang sudah matang. Lalu dia menghadap belakang. Tiba-tiba Ka’ Juli sudah berada di belakangnya.
Lina :”Astaghfirullah…! Ka’ Juli, aku kira siapa. Sejak kapan kakak ada di situ?”
Juli :”Dari tadi. Maaf kalau aku bikin kamu kaget.”
Lina :”Nggak apa-apa kok.”
Juli :”Kamu yang masak yach…? Wanginya sedap sekali.”
Lina :”Iya, kalau gitu ayo kita makan bareng.”
Juli :”Makasih. Sebenarnya aku ke sini Cuma pengen tau keadaan kalian.”
Weny :”Kakak perhatian banget deh sama kita.”
Acara makan malam sudah selesai. Mereka membersihkan meja makan, lalu mereka kembali ke kamar, begitu pula dengan Juli, dia juga ikut menginap di vila menemani ketiga sahabat itu.
Juli yang sebenarnya sudah meninggal itu, jasadnya belum di temukan. Dan Cika sering sekali melihatnya memandangi kolam ikan yang dalam itu.
Cika :”Ka’ kenapa kok ngelamun gitu sih. Kita main-main yuk sama Weny dan Lina.”
Juli :”Iya.”
Tapi, seketika wajah Cika berubah menjadi pucat, karena dia melihat Juli melayang. Kakinya tidak menyentuh tanah. Dia lari pontang-panting sambil berteriak.
Cika :”Tolong….Tolong.!”
Weny :”Kamu kenapa sih kok ngos-ngosan gitu. Kayak habis ngeliat hantu aja.”
Cika :”Aku emang habis ngeliat hantu.”
Lina :”Hantu siapa…?”
Cika :”Ka’ Juli …!”
Weny & Lina :”Ka’ Juli ? Bagaimana mungkin ?”
Cika :”Tadi aku ngeliat dia di depan kolam, dia terus-terusa mandangin kolam makanya aku ngajak dia masuk. Tapi, pas dia berdiri dia malah terbang, kakinya nggak nyentuh tanah."
Tiba-tiba saja Juli ada di belakang mereka yang sedang bicar.
Juli :”Tolong….Tolong aku…?!”
Weny & Cika & Lina :”Hantu….!”
Mereka lari kesana-kesini, tapi percuma mereka sembunyi.
Weny :”Teman-teman ikuti aku.
KIRI, KANAN, MAJU, MUNDUR, TEK….TEK….TEK….
KIRI, KANAN, MAJU, MUNDUR, TEK….TEK….TEK….
Liat ke belakang….”
Weny & Cika & Lina :”Hantu….!!! Kabur..!!”
Juli :”Tolong….Tolong….”
Cika :”Wen,kenapa hantu itu minta tolong ya ?”
Lina :”Iya Wen, kenapa ya hantunya Ka’ Juli minta tolong ?”
Weny :”Entahlah, yang penting sekarang kita cari tempat yang aman untuk bersembunyi. Ayo ke dalam ruangan kosong itu.”
Cika :”Ya udah ayo cepet…!”
Saat ada di dalam ruangan kosong itu, tiba-tiba lampu menyala dan muncul hantu Juli di depan mereka bertiga.
Juli :”Tolong….Tolong...Tolong aku…!”
Weny :”Maksudnya, minta tolong pada kami apa ?”
Juli :” Tolong aku….”
Ucapan minta tolong dan tangannya menuju ke kolam yang berada di dekat kamar kosong itu. Lalu hantu Juli itu berjalan ke atas kolam dan menghilang di tengah-tengah kolam.
Weny :”Ayo kita ke kolam !”
Lina :”Tapi, aku takut !”
Cika :”Ya udah, kamu diam aja di sini, biar kami yang memeriksa kolam itu.”
Lina :”Nggak aku ikut.”
Weny :”Ya udah kalo gitu ayo jalan.”
Setibanya di kolam, tidak ada yang aneh. Terus Weny meminta Cika untuk menelpon Bu De. Beberapa saat kemudian Bu De datang dengan semua orang kampung, dengan membawa peralatan-peralatan untuk mengeringkan isi kolam. Tak lama kemudian kolam yang semula penuh kini kering. Dan saat orang-orang mengali kolam itu, tiba-tiba saja sebuah tangan yang sudah membengkak muncul. Dan digali lebih dalam hingga nampak seluruh tubuh itu. Dan ternyata itu adalah jasad Juli yang sudah 5 hari menghilang. Ketiga sahabat itu hanya bisa terdiam menyaksikan jasad Juli.
02/16/2010